PBG Adalah Pengganti IMB: Pahami Perbedaan, Syarat, dan Cara Mengurusnya di 2026
Istilah IMB sudah tidak berlaku secara hukum — pemerintah menggantinya dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sejak berlakunya PP No. 16 Tahun 2021. PBG bukan sekadar ganti nama: fokusnya bergeser ke standar teknis dan keselamatan bangunan, dan menjadi syarat mutlak untuk memperoleh SLF. Pengurusannya kini 100% daring melalui portal SIMBG. PT. Kinarya Kompegriti Rekanusa mendampingi dari penyusunan gambar teknis hingga sidang di SIMBG.
Masih mencari cara mengurus IMB di tahun 2026? Perlu Anda ketahui, istilah IMB sudah tidak lagi berlaku. Pemerintah resmi menggantinya dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Jika Anda berencana membangun rumah, ruko, atau pabrik, memahami PBG adalah langkah pertama yang krusial agar properti Anda legal dan tidak disegel.
Apa Itu PBG (Persetujuan Bangunan Gedung)?
PBG adalah perizinan yang diberikan pemerintah kepada pemilik untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai standar teknis. Berbeda dari IMB yang bersifat administratif, PBG menekankan jaminan standar keselamatan bangunan.
Secara sederhana, perbedaan intinya:
- IMB (lama): izin yang bersifat administratif (izin mendirikan).
- PBG (baru): persetujuan yang bersifat teknis (jaminan standar keselamatan).
Penting untuk diingat, PBG merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Tanpa PBG, Anda tidak bisa mengurus SLF, sehingga bangunan Anda tidak boleh beroperasi.
Apa Perbedaan Mendasar IMB vs PBG?
IMB berfokus pada izin administratif (boleh/tidak membangun), sedangkan PBG berfokus pada standar teknis dan keselamatan (bagaimana bangunan berdiri dengan aman) serta melibatkan pengawasan berkala. PBG juga menjadi syarat mutlak terbitnya SLF.
| Fitur | IMB (Lama) | PBG (Baru) |
|---|---|---|
| Fokus utama | Izin administratif sebelum membangun | Standar teknis & keselamatan bangunan |
| Pengawasan | Seringkali hanya di awal | Melibatkan pengawasan konstruksi berkala |
| Fleksibilitas | Kaku (harus sesuai izin awal) | Fleksibel (penyesuaian teknis asal dilaporkan) |
| Koneksi SLF | Terpisah (sering diabaikan) | Syarat mutlak terbitnya SLF |
| Masa berlaku | Selama tidak ada perubahan | Selama tidak ada perubahan (SLF-nya wajib diperpanjang) |
Apa Saja Jenis Permohonan PBG?
Di SIMBG terdapat beberapa jenis permohonan: PBG Bangunan Baru (untuk bangunan yang akan dibangun), PBG Bangunan Eksisting (untuk bangunan lama yang belum memiliki izin), dan PBG Perubahan (untuk renovasi, penambahan, atau perubahan fungsi). Memilih kategori yang tepat sejak awal mencegah proses harus diulang.
- PBG Bangunan Baru: untuk bangunan yang akan didirikan dari nol; diajukan sebelum konstruksi dimulai.
- PBG Bangunan Eksisting: untuk bangunan lama yang sudah berdiri namun belum memiliki IMB/PBG, agar legalitasnya terpenuhi.
- PBG Perubahan: untuk renovasi besar, penambahan lantai, perluasan, atau perubahan fungsi bangunan.
Apa Syarat Mengurus PBG?
SIMBG mewajibkan dokumen perencanaan teknis: data umum (KTP/KITAS, sertifikat tanah, KRK), data teknis arsitektur (denah, tampak, potongan), data teknis struktur (perhitungan gempa, sondir, pondasi), dan data MEP (listrik, sanitasi, proteksi kebakaran).
- Data umum: KTP/KITAS, sertifikat tanah, dan KRK (Keterangan Rencana Kota).
- Data teknis arsitektur: gambar denah, tampak, potongan, dan detail spesifikasi material.
- Data teknis struktur: perhitungan beban gempa, mekanika tanah (sondir), dan detail pondasi.
- Data MEP: gambar instalasi listrik, sanitasi, dan proteksi kebakaran.
Di sinilah banyak pemohon gagal — jika dokumen teknis tidak sesuai standar, dinas akan menolak pengajuan berkali-kali. Gambar teknis ini disusun sebagai Detail Engineering Design (DED) oleh tenaga ahli bersertifikat.
Bagaimana Alur Pengurusan PBG Melalui SIMBG?
Enam tahap daring di SIMBG: registrasi akun & pilih jenis permohonan, unggah dokumen, verifikasi administrasi oleh operator dinas, konsultasi teknis & sidang TPA/TPT, validasi & perhitungan retribusi (SKRD), lalu pembayaran retribusi & penerbitan PBG digital ber-QR Code.
- Persiapan & pendaftaran akun. Registrasi di simbg.pu.go.id dan pilih jenis permohonan yang tepat (Baru, Eksisting, atau Perubahan).
- Unggah dokumen. Unggah dokumen tanah dan gambar DED (arsitektur, struktur, MEP) dalam format PDF yang telah ditandatangani tenaga ahli bersertifikat.
- Verifikasi administrasi. Operator dinas memeriksa kelengkapan berkas; bila kurang, berkas dikembalikan untuk revisi.
- Konsultasi teknis & sidang TPA/TPT. Tim Profesi Ahli (TPA) atau Tim Penilai Teknis (TPT) menguji dokumen; konsultan mempresentasikan perhitungan struktur dan menjawab pertanyaan soal ketahanan gempa, sanitasi, dan proteksi kebakaran.
- Validasi & perhitungan retribusi. Setelah desain memenuhi standar, dinas menerbitkan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) digital.
- Pembayaran & penerbitan PBG. Setelah pembayaran retribusi terkonfirmasi, dokumen PBG digital ber-QR Code terbit otomatis.
Bagaimana Retribusi PBG Dihitung?
Retribusi PBG dihitung otomatis oleh sistem SIMBG berdasarkan luas bangunan, indeks (fungsi & klasifikasi), dan standar harga satuan yang ditetapkan pemerintah daerah. Karena bergantung pada indeks dan tarif tiap daerah, besarannya berbeda-beda dan hanya dapat dipastikan setelah SKRD terbit.
Secara konsep, semakin luas dan kompleks bangunan, semakin besar retribusinya. Pembayaran dilakukan resmi ke Kas Daerah sesuai nominal pada SKRD — bukan kepada petugas secara langsung. Nominal pastinya baru muncul setelah desain lolos sidang teknis dan SKRD diterbitkan sistem.
Apa Sanksi Membangun Tanpa PBG?
Membangun tanpa PBG adalah pelanggaran yang dikenai sanksi administratif bertahap: peringatan tertulis, pembatasan/penghentian pembangunan, pembekuan atau pencabutan izin, hingga perintah pembongkaran dan denda. Tanpa PBG, Anda juga tidak dapat mengurus SLF.
- Peringatan tertulis dari pemerintah daerah.
- Pembatasan atau penghentian kegiatan pembangunan (penyegelan).
- Pembekuan atau pencabutan izin dan dokumen terkait.
- Perintah pembongkaran serta denda administratif.
- Tidak bisa mengurus SLF — sehingga bangunan tidak boleh dioperasikan.
Apa Beda PBG, SLF, dan DED?
DED adalah dokumen gambar/perencanaan teknis (input). PBG adalah persetujuan untuk mendirikan/mengubah bangunan (sebelum bangun). SLF adalah sertifikat bahwa bangunan laik fungsi (setelah bangun). Alurnya berurutan: DED → PBG → konstruksi → SLF.
| Dokumen | Fungsi | Kapan |
|---|---|---|
| DED | Dokumen gambar & perencanaan teknis | Sebelum PBG (sebagai input) |
| PBG | Persetujuan mendirikan/mengubah bangunan | Sebelum membangun |
| SLF | Sertifikat bangunan laik fungsi | Setelah bangunan selesai |
- Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung & UU Cipta Kerja.
- Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bangunan Gedung (dasar PBG & SLF). (peraturan.bpk.go.id)
- Portal SIMBG Kementerian PUPR — simbg.pu.go.id.
FAQ – Seputar PBG
Butuh Bantuan Mengurus PBG & SLF?
Jangan biarkan birokrasi rumit menghambat proyek Anda. Rekanusa mendampingi dari penyusunan gambar teknis, perhitungan struktur, hingga sidang di SIMBG — memastikan bangunan Anda memiliki izin berdiri (PBG) dan layak fungsi (SLF).
Ketahui Juga Selengkapnya di Sini




